29 Jan 2010

Thariqoh Alawiyyin

Tarekat Alawiyyah berbeda dengan tarekat sufi lain pada umumnya. Perbedaan itu, misalnya, terletak dari praktiknya yang tidak menekankan segi-segi riyadlah (olah ruhani) dan kezuhudan, melainkan lebih menekankan pada amal, akhlak, dan beberapa wirid serta dzikir ringan.Sehingga wirid dan dzikir ini dapat dengan mudah dipraktikkan oleh siapa saja meski tanpa dibimbing oleh seorang mursyid. Ada dua wirid yang diajarkannya, yakni Wirid Al-Lathif dan Ratib Al-Haddad. Juga dapat dikatakan, bahwa tarekat ini merupakan jalan tengah antara Tarekat Syadziliyah [yang menekankan riyadlah qulub (olah hati) dan batiniah] dan Tarekat Al-Ghazaliyah [yang menekankan riyadlah al-‘abdan (olah fisik)].Tarekat Alawiyyah merupakan salah satu tarekat mu’tabarah dari 41 tarekat yang ada di dunia. Tarekat ini berasal dari Hadhramaut, Yaman Selatan dan tersebar hingga ke berbagai negara, seperti Afrika, India, dan Asia Tenggara (termasuk Indonesia).
Tarekat ini didirikan oleh Imam Ahmad bin Isa al-Muhajir – lengkapnya Imam Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir — , seorang tokoh sufi terkemuka asal Hadhramat pada abad ke-17 M. Namun dalam perkembangannya kemudian, Tarekat Alawiyyah dikenal juga dengan Tarekat Haddadiyah, yang dinisbatkan kepada Sayyid Abdullah al-Haddad, selaku generasi penerusnya. Sementara nama “Alawiyyah” berasal dari Imam Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir.
Tarekat Alawiyyah, secara umum, adalah tarekat yang dikaitkan dengan kaum Alawiyyin atau lebih dikenal sebagai saadah atau kaum sayyid – keturunan Nabi Muhammad SAW – yang merupakan lapisan paling atas dalam strata masyarakat Hadhrami. Karena itu, pada masa-masa awal tarekat ini didirikan, pengikut Tarekat Alawiyyah kebanyakan dari kaum sayyid (kaum Hadhrami), atau kaum Ba Alawi, dan setelah itu diikuti oleh berbagai lapisan masyarakat muslim lain dari non-Hadhrami.
Tarekat Alawiyyah juga boleh dikatakan memiliki kekhasan tersendiri dalam pengamalan wirid dan dzikir bagi para pengikutnya. Yakni tidak adanya keharusan bagi para murid untuk terlebih dahulu diba’iat atau ditalqin atau mendapatkan khirqah jika ingin mengamalkan tarekat ini. Dengan kata lain ajaran Tarekat Alawiyyah boleh diikuti oleh siapa saja tanpa harus berguru sekalipun kepada mursyidnya. Demikian pula, dalam pengamalan ajaran dzikir dan wiridnya, Tarekat Alawiyyah termasuk cukup ringan, karena tarekat ini hanya menekankan segi-segi amaliah dan akhlak (tasawuf ‘amali, akhlaqi). Sementara dalam tarekat lain, biasanya cenderung melibatkankan riyadlah-riyadlah secara fisik dan kezuhudan ketat.
Oleh karena itu dalam perkembangan lebih lanjut, terutama semasa Syekh Abdullah al-Haddad – Tarekat Alawiyyah yang diperbaharui – tarekat ini memiliki jumlah pengikut yang cukup banyak seperti di Indonesia. Bahkan dari waktu ke waktu jumlah pengikutnya terus bertambah seiring dengan perkembangan zaman. Tarekat Alawiyyah memiliki dua cabang besar dengan jumlah pengikut yang juga sama banyak, yakni Tarekat ‘Aidarusiyyah dan Tarekat ‘Aththahisiyyah.

Biografi Imam Ahmad bin Isa al-Muhajir
Imam Ahmad bin Isa al-Muhajir (selanjutnya Imam Ahmad) adalah keturunan Nabi Muhammad SAW melalui garis Husein bin Sayyidina Ali bin Abi Thalib atau Fathimah Azzahra binti Rasulullah SAW. Ia lahir di Basrah, Irak, pada tahun 260 H. Ayahnya, Isa bin Muhammad, sudah lama dikenal sebagai orang yang memiliki disiplin tinggi dalam beribadah dan berpengetahuan luas. Mula-mula keluarga Isa bin Muhammad tinggal di Madinah, namun karena berbagai pergolakan politik, ia kemudian hijrah ke Basrah dan Hadhramaut. Sejak kecil hingga dewasanya Imam Ahmad sendiri lebih banyak ditempa oleh ayahnya dalam soal spiritual. Sehingga kelak ia terkenal sebagai tokoh sufi. Bahkan oleh kebanyakan para ulama pada masanya, Imam Ahmad dinyatakan sebagai tokoh yang tinggi hal-nya (keadaan ruhaniah seorang sufi selama melakukan proses perjalanan menuju Allah—red).
Selain itu, Imam Ahmad juga dikenal sebagai seorang saudagar kaya di Irak. Tapi semua harta kekayaan yang dimilikinya tak pernah membuat Imam Ahmad berhenti untuk beribadah, berdakwah, dan berbuat amal shaleh. Sebaliknya, semakin ia kaya semakin intens pula aktivitas keruhanian dan sosialnya.
Selama di Basrah, Imam Ahmad sering sekali dihadapkan pada kehidupan yang tak menentu. Misalnya oleh berbagai pertikaian politik dan munculnya badai kedhaliman dan khurafat. Sadar bahwa kehidupan dan gerak dakwahnya tak kondusif di Basrah, pada tahun 317 H Imam Ahmad lalu memutuskan diri untuk berhijrah ke kota Hijaz. Dalam perjalanan hijrahnya ini, Imam Ahmad ditemani oleh istrinya, Syarifah Zainab binti Abdullah bin al-Hasan bin Ali al-Uraidhi, dan putra terkecilnya, Abdullah. Dan setelah itu ia kemudian hijrah ke Hadhramaut dan menetap di sana sampai akhir hayatnya.
Tapi dalam sebuah riwayat lain disebutkan, sewaktu Imam Ahmad tinggal di Madinah Al-Munawarrah, ia pernah menghadapi pergolakan politik yang tak kalah hebat dengan yang terjadi di kota Basrah. Pada saat itu, tepatnya tahun 317 H, Mekkah mendapat serangan sengit dari kaum Qaramithah yang mengakibatkan diambilnya Hajar Aswad dari sisi Ka’bah. Sehingga pada tahun 318 H, tatkala Imam Ahmad menunaikan ibadah haji, ia sama sekali tidak mencium Hajar Aswad kecuali hanya mengusap tempatnya saja dengan tangan. Barulah setelah itu, ia pergi menuju Hadhramaut.

Awal Perkembangan Tarekat Alawiyyah
 

Tonggak perkembangan Tarekat Alawiyyah dimulai pada masa Muhammad bin Ali, atau yang akrab dikenal dengan panggilan Al-Faqih al-Muqaddam (seorang ahli agama yang terpandang) pada abad ke-6 dan ke-7 H. Pada masanya, kota Hadhramaut kemudian lebih dikenal dan mengalami puncak kemasyhurannya. Muhammad bin Ali adalah seorang ulama besar yang memiliki kelebihan pengetahuan bidang agama secara mumpuni, di antaranya soal fiqih dan tasawuf. Di samping itu, konon ia pun memiliki pengalaman spiritual tinggi hingga ke Maqam al-Quthbiyyah (puncak maqam kaum sufi) maupun khirqah shufiyyah (legalitas kesufian).
Mengenai keadaan spiritual Muhammad bin Ali ini, al-Khatib pernah menggambarkan sebagai berikut: (“Pada suatu hari, Al-Faqih al-Muqaddam tenggelam dalam lautan Asma, Sifat dan Dzat Yang Suci”). Pada hikayat ke-24, para syekh meriwayatkan bahwa syekh syuyukh kita, Al-Faqih al-Muqaddam, pada akhirnya hidupnya tidak makan dan tidak minum. Semua yang ada di hadapannya sirna dan yang ada hanya Allah. Dalam keadaan fana’ seperti ini datang Khidir dan lainnya mengatakan kepadanya: “Segala sesuatu yang mempunyai nafs (ruh) akan merasakan mati .” Dia mengatakan, “Aku tidak mempunyai nafs.” Dikatakan lagi, “Semua yang berada di atasnya (dunia) akan musnah.” Dia menjawab, “Aku tidak berada di atasnya.” Dia mengatakan lagi, “Segala sesuatu akan hancur kecuali wajah-Nya (Dia).” Dia menjawab, “Aku bagian dari cahaya wajah-Nya.” Setelah keadaan fana’-nya berlangsung lama, lalu para putranya memintanya untuk makan walaupun sesuap. Menjelang akhir hayatnya, Al- mereka memaksakan untuk memasukkan makanan ke dalam perutnya. Dan setelah makanan tersebut masuk mereka mendengar suara (hatif). “Kalian telah bosan kepadanya, sedang kami menerimanya. Seandainya kalian biarkan dia tidak makan, maka dia akan tetap bersama kalian.”
Setelah wafatnya Muhammad bin Ali, perjalanan Tarekat Alawiyyah lalu dikembangkan oleh para syekh. Di antaranya ada empat syekh yang cukup terkenal, yaitu Syekh Abd al-Rahman al-Saqqaf (739), Syekh Umar al-Muhdhar bin Abd al-Rahman al-Saqqaf (833 H), Syekh Abdullah al-‘Aidarus bin Abu Bakar bin Abd al-Rahman al-Saqqaf (880 H), dan Syekh Abu Bakar al-Sakran (821 H).
Selama masa para syekh ini, dalam sejarah Ba Alawi, di kemudian hari ternyata telah banyak mewarnai terhadap perkembangan tarekat itu sendiri. Dan secara umum, hal ini bisa dilihat dari ciri-ciri melalui para tokoh maupun berbagai ajarannya dari masa para imam hingga masa syekh di Hadhramaut.

Pertama, adanya suatu tradisi pemikiran yang berlangsung dengan tetap mempertahankan beberapa ajaran para salaf mereka dari kalangan tokoh Alawi, seperti Al-Quthbaniyyah, dan sebutan Imam Ali sebagai Al-Washiy, atau keterikatan daur sejarah Alawi dan Ba Alawi. Termasuk masalah wasiat dari Rasulullah untuk Imam Ali sebagai pengganti Nabi Muhammad SAW.
 

Kedua, adanya sikap elastis terhadap pemikiran yang berkembang yang mempermudah kelompok ini untuk membaur dengan masyarakatnya, serta mendapatkan status sosial yang terhormat hingga mudah mempengaruhi warna pemikiran masyarakat.
 

Ketiga, berkembangnya tradisi para sufi kalangan khawwash (elite), seperti al-jam’u, al-farq, al-fana’ bahkan al-wahdah, sebagaimana yang dialami oleh Muhammad bin Ali (Al-Faqih al-Muqaddam) dan Syekh Abd al-Rahman al-Saqqaf.
 

Keempat, dalam Tarekat Alawiyyah, berkembang suatu usaha pembaharuan dalam mengembalikan tradisi tarekat sebagai Thariqah (suatu madzhab kesufian yang dilakukan oleh seorang tokoh sufi) hingga mampu menghilangkan formalitas yang kaku dalam tradisi tokoh para sufi.
 

Kelima, bila pada para tokoh sufi, seperti Hasan al-Bashri dengan zuhd-nya, Rabi’ah al-Adawiyah dengan mahabbah dan al-isyq al-Ilahi-nya, Abu Yazid al-Busthami dengan fana’-nya, al-Hallaj dengan wahdah al-wujud-nya, maka para tokoh Tarekat Alawiyyah, selain memiliki kelebihan-kelebihan itu, juga dikenal dengan al-khumul dan al-faqru-nya. Al-khumul berarti membebaskan seseorang dari sikap riya’ dan ‘ujub, yang juga merupakan bagian dari zuhud. Adapun al-faqru adalah suatu sikap yang secara vertikal penempatan diri seseorang sebagai hamba di hadapan Khaliq (Allah) sebagai zat yang Ghani (Maha Kaya) dan makhluk sebagai hamba-hamba yang fuqara, yang selalu membutuhkan nikmat-Nya. Secara horizontal, sikap tersebut dipahami dalam pengertian komunal bahwa rahmat Tuhan akan diberikan bila seseorang mempunyai kepedulian terhadap kaum fakir miskin.
Penghayatan ajaran tauhid seperti ini menjadukan kehidupan mereka tidak bisa dilepaskan dari kaum kelas bawah maupun kaum tertindas (mustadl’afin). Syekh Abd al-Rahman al-Saqqaf misalnya, selama itu dikenal dengan kaum fuqara-nya, sedangkan istri Muhammad bin Ali terkenal dengan dengan ummul fuqara-nya.

Al 'alamah Al Habib Abdullah al-Haddad dan Tarekat Alawiyyah
 

Nama lengkapnya Syekh Abdullah bin Alwi al-Haddad atau Syekh Abdullah al-Haddad. Dalam sejarah Tarekat Alawiyyah, nama al-Haddad ini tidak bisa dipisahkan, karena dialah yang banyak memberikan pemikiran baru tentang pengembangan ajaran tarekat ini di masa-masa mendatang. Ia lahir di Tarim, Hadhramaut pada 5 Safar 1044 H. Ayahnya, Sayyid Alwi bin Muhammad al-Haddad, dikenal sebagai seorang yang saleh. Al-Haddad sendiri lahir dan besar di kota Tarim dan lebih banyak diasuh oleh ibunya, Syarifah Salma, seorang ahli ma’rifah dan wilayah (kewalian).
Peranan al-Haddad dalam mempopulerkan Tarekat Alawiyyah ke seluruh penjuru dunia memang tidak kecil, sehingga kelak tarekat ini dikenal juga dengan nama Tarekat Haddadiyyah. Peran al-Haddad itu misalnya, ia di antaranya telah memberikan dasar-dasar pengertian Tarekat Alawiyyah. Ia mengatakan, bahwa Tarekat Alawiyyah adalah Thariqah Ashhab al-Yamin, atau tarekatnya orang-orang yang menghabiskan waktunya untuk ingat dan selalu taat pada Allah dan menjaganya dengan hal-hal baik yang bersifat ukhrawi. Dalam hal suluk, al-Haddad membaginya ke dalam dua bagian.
Pertama, kelompok khashshah (khusus), yaitu bagi mereka yang sudah sampai pada tingkat muhajadah, mengosongkan diri baik lahir maupun batin dari selain Allah di samping membersihkan diri dari segala perangai tak terpuji hingga sekecil-kecilnya dan menghiasi diri dengan perbuatan-perbuatan terpuji. Kedua, kelompok ‘ammah (umum), yakni mereka yang baru memulai perjalanannya dengan mengamalkan serangkaian perintah-perintah as-Sunnah. Dengan kata lain dapat disimpulkan bahwa Tarekat Alawiyyah adalah tarekat ‘ammah, atau sebagai jembatan awal menuju tarekat khashshah.
Karena itu, semua ajaran salaf Ba Alawi menekankan adanya hubungan seorang syekh (musryid), perhatian seksama dengan ajarannya, dan membina batin dengan ibadah. Amal shaleh dalam ajaran tarekat ini juga sangat ditekankan, dan untuk itu diperlukan suatu tarekat yang ajarannya mudah dipahami oleh masyarakat awam.
Al-Haddad juga mengajarkan bahwa hidup itu adalah safar (sebuah perjalanan menuju Tuhan). Safar adalah siyahah ruhaniyyah (perjalanan rekreatif yang bersifat ruhani), perjalanan yang dilakukan untuk melawan hawa nafsu dan sebagai media pendidikan moral. Oleh karena itu, di dalam safar ini, para musafir setidaknya membutuhkan empat hal. Pertama, ilmu yang akan membantu untuk membuat strategi, kedua, sikap wara’ yang dapat mencegahnya dari perbuatan haram. Ketiga, semangat yang menopangnya. Keempat, moralitas yang baik yang menjaganya.

7 Wasiat Rasulullah SAW

Rasulullah berwasiat, cintailah fakir-miskin, berbanyak silaturrahmi, jangan suka meminta-minta dan jangan takut celaan dalam berdakwah

Hidayatullah.com--“Dari Abu Dzar ia berkata; “Kekasihku (Rasulullah SAW) berwasiat kepadaku dengan tujuh hal: (1) supaya aku mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka, (2) beliau memerintahku agar aku melihat orang-orang yang di bawahku dan tidak melihat orang yang berada di atasku, (3) beliau memerintahkan agar aku menyambung silaturahim dengan karib kerabat meski mereka berlaku kasar kepadaku, (4) aku diperintahkan agar memperbanyak ucapan La haula walaa quwwata illa billah, (5) aku diperintahkan untuk mengatakan kebenaran meskipun pahit, (6) beliau berwasiat agar aku tidak takut celaan orang yang mencela dalam berdakwah kepada Allah, (7) belaiu melarang aku agar aku tidak meminta-minta sesuatu kepada manusia” (Riwayat Ahmad).

Meski wasiat ini disampaikan kepada Abu Dzar RA, namun hakikatnya untuk kaum Muslimin secara umum. Sebagaimana kaidah: (Al-Khitobu li’umuumil-lafdzi, walaisa min khususil asbab).

Wasiat pertama, mencintai orang miskin.

Islam menganjurkan umatnya agar berlaku tawadhu’ (berendah hati) terhadap orang-orang miskin, menolong dan membantu kesulitan mereka. Demikianlah yang dicontohkan para sahabat di antaranya Umar bin Khaththab Radhiallahu anhu (RA) yang terkenal sangat merakyat, Khalifah Abu Bakar yang terkenal dengan sedekah “pikulan”nya, Utsman bin Affan dengan kedermawanannya.

Cintailah dan kasihanilah orang-orang miskin, sebab hidup mereka tidak cukup, diabaikan masyarakat dan tidak diperhatikan. Orang yang mencintai fuqara’ dan masakin dari kaum Muslimin, terutama mereka yang mendirikan shalat, dan taat kepada Allah, maka mereka akan dibela Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) di dunia dan pada hari kiamat.

Sebagaimana sabda Rasulullah, “Barangsiapa yang menghilangkan satu kesusahan dunia dari seorang Muslim, Allah akan menghilangkan darinya satu kesusahan di hari kiamat. Dan barangsiapa yang memudahkan kesulitan orang yang dililit hutang, Allah akan memudahkan baginya di dunia dan akhirat” (Riwayat Muslim).

Juga sabda beliau, “Orang yang membiayai kehidupan para janda dan orang-orang miskin bagaikan orang yang jihad fi sabilillah…..” (Riwayat Bukhari). Dalam riwayat lain seperti mendapatkan pahala shalat dan puasa secara terus menerus….

Wasiat kedua, melihat orang yang lebih rendah kedudukannya dalam hal materi dunia.

Rasulullah memerintahkan agar kita melihat orang-orang yang berada di bawah kita dalam masalah dunia dan mata pencaharian. Tujuannya, tiada lain agar kita selalu bersyukur dengan nikmat Allah yang ada. Selalu qona’ah (merasa cukup dengan apa yang Allah karuniakan kepada kita), tidak serakah, tidak pula iri dengki dengan kenikmatan orang lain.

Memang rata-rata penyakit manusia selalu melihat ke atas dalam hal harta, kedudukan, dan jabatan. Selama manusia hidup ia selalu merasa kurang dan kurang. Baru merasa cukup manakala mulutnya tersumpal tanah kuburan.

“Lihatlah kepada orang yang berada di bawahmu dan janganlah melihat orang yang ada di atasmu, karena hal demikian lebih patut agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu.” (Riwaat Muttafaqun ‘alaihi).

Sebaliknya dalam masalah agama, ibadah dan ketakwaan, seharusnya kita melihat orang-orang yang di atas kita, yaitu para Nabi, sahabat, orang-orang yang jujur, para syuhada’, para ulama’ dan salafus-shalih.

Wasiat ketiga, menyambung silaturahim kepada kaum kerabat

Silaturahim adalah ungkapan mengenai berbuat baik kepada karib kerabat karena hubungan nasab (keturunan) atau karena perkawinan. Yaitu silaturahim kepada orang tua, kakak, adik, paman, keponakan yang masih memiliki hubungan kekerabatan. Berbuat baik dan lemah lembut kepada mereka, menyayangi, memperhatikan dan membantu mereka.

Dengan silaturahim, Allah memberikan banyak manfaat. Di antaranya, menjalankan perintah Allah dan rasul-Nya, dengannya akan menumbuhkan sikap saling membantu dan mengetahui keadaan masing-masing. Silaturahmi pula akan memberikan kelapangan rezeki dan umur yang panjang. Sebaliknya bagi yang mengabaikan silaturahim Allah sempitkan hartanya dan tidak memberikan berkah pada umurnya, bahkan Allah tidak memasukkannya ke dalam surga.

Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menyambung silaturahmi” (Riwayat Bukhari).

Wasiyat keempat, memperbanyak ucapan ‘La haula walaa quwwata illa bilLah’

Rasulullah memerintahkan memperbanyak ucapan La haula walaa quwwata illa bilLah’ agar kita berlepas diri dari merasa tidak mampu. Kita serahkan semuanya kepada Allah. Makna kalimat ini juga sebagai sikap tawakkal, hanya kepada Allah kita menyembah dan hanya kepada-Nya pula kita memohon pertolongan.

Pada hakekatnya seorang hamba tidak memiliki daya-upaya apapun kecuali dengan pertolongan Allah. Seorang penuntut ilmu tidak bisa duduk di majelis ilmu melainkan dengan pertolongan Allah. Demikian juga seorang guru tidak mungkin bisa mengajarkan ilmu yang manfaat kepada muridnya melainkan dengan pertolongan Allah.

Nabi bersabda :

“Ya Abdullah bin Qois, maukah aku tunjukkan kepadamu atas perbendaharaan dari perbendaharaan surga? (yaitu) ‘La haula walaa quwwata illa billah’ (Riwayat Muttafaqun ‘Alaih).

Wasiyat kelima, berani mengatakan kebenaran meskipun pahit

Kebanyakan orang hanya asal bapak senang (ABS), menjilat agar mendapat simpati dengan mengorbankan kebenaran dan kejujuran. Getirnya kebenaran tidak boleh mencegah kita untuk tidak mengucapkannya, baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Apabila sesuatu itu sudah jelas sebagai sesuatu yang haram, bid’ah, munkar, batil, dan syirik, maka jangan sampai kita takut menerangkannya.

Sesungguhnya jihad yang paling utama ialah mengatakan kalimat kebenaran (haq) kepada penguasa yang zalim. Bukan dengan cara menghujat aib mereka di mimbar-mimbar, tidak dengan aksi orasi, demonstrasi, dan provokasi.

“Barangsiapa yang ingin menasehati penguasa, janganlah ia tampakkan dengan terang-terangan. Hendaklah ia pegang tangannya lalu menyendiri dengannya. Kalau penguasa itu mau mendengar nasehat itu, maka itu yang terbaik. Dan apabila penguasa itu enggan, maka ia sungguh telah melaksanakan kewajiban amanah yang dibebankan kepadanya” (Riwayat Ahmad)

Wasiyat keenam, tidak takut celaan dalam berdakwah.

Betapa berat resiko dakwah yang Rasulullah dan sahabat alami. Mereka harus menderita karena mendapat celaan, ejekan, fitnah, boikot. Juga pengejaran, lemparan kotoran, dimusuhi, diteror, dan dibunuh.

Manusia yang sakit hatinya kadang-kadang tidak mau menerima dengan penjelasan dakwah, maka para pendakwah harus sabar menyampaikan dengan ilmu dan hikmah. Jika dai mendapat penolakan dan cercaan jangan sampai mundur. Maka para penyeru tauhid, penyeru kebenaran jangan berhenti hanya dengan di cerca.

“(Yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan tidak merasa takut dengan siapapun selain Allah. Dan cukuplah Allah sebagai pembuat perhitungan” (Al-Ahzab [33]: 39).

Wasiat ketujuh, tidak suka meminta-minta sesuatu kepada orang lain.

Orang yang dicintai Allah, Rasul dan manusia, adalah mereka yang tidak meminta-minta. Seorang Muslim harus berusaha makan dari hasil jerih payah tangannya sendiri. Seorang Muslim harus berusaha memenuhi hajat hidupnya sendiri dan tidak boleh selalu mengharapkan belas kasihan orang.

“Sungguh, seseorang dari kalian mengambil tali, lalu membawa seikat kayu bakar di punggungnya, kemudian ia menjualnya, sehingga dengannya Allah menjaga kehormatannya. Itu lebih baik baginya daripada meminta-minta kepada manusia. Mereka bisa memberi atau tidak memberi” (Riwayat Bukhori).

Demikianlah 7 wasiat Rasulullah SAW. Semoga kita bisa menunaikannya.

SYAFA'AT RASULULLAH SAW DI HARI KIAMAT



Tentang syafa’at di hari kiamat adalah bagian alam ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali hanya Allah Swt. Oleh karena itu, tidak ada yang dapat membicarakan hal tersebut kecuali al Qur’an dan hadits Nabi.  Rasulullah s.a.w dalam sebuah haditsnya berikut ini membeberkan keadaan alam ghaib tersebut dengan gamblang yang artinya:
Diriwayatkan dari Abu Said al-Khudri r.a berkata: Bahwasanya kaum muslimin pada zaman Rasulullah s.a.w bertanya: “Wahai Rasulullah, adakah kami dapat melihat Tuhan kami nanti pada Hari Kiamat?”, Rasulullah s.a.w  bersabda: “Ya!! Adakah kamu terhalang melihat matahari pada siang hari yang cerah yang tidak ada awan? Adakah kamu terhalang melihat bulan pada malam purnama yang cerah tanpa ada awan?” Kaum muslimin menjawab: “Tidak, wahai Rasulullah”. Rasulullah s.a.w bersabda: “Kamu tidak akan terhalang melihat Allah Ta’ala pada hari kiamat sebagaimana kamu tidak terhalang melihat salah satu dari matahari dan bulan”.
Ketika hari kiamat datang, para penyeru menyampaikan pengumaman: “Setiap umat hendaklah mengikuti yang mereka sembah selama hidup di dunia”. Maka tidak ada yang tertinggal seorangpun dari mereka yang menyembah selain dari Allah, yakni dari golongan yang menyembah berhala-berhala. Mereka saling berguguran di neraka sehingga yang tinggal hanyalah orang-orang yang menyembah Allah. Mereka itu terdiri orang-orang yang baik dan orang-orang jahat serta para pembesar Ahli Kitab.
Orang-orang Yahudi dipanggil dan ditanyakan kepada mereka: “Apakah yang kamu sembah sewaktu di dunia?” Mereka menjawab: “Kami menyembah Uzair Ibnullah”. Lalu dikatakan kepada mereka: “Kamu telah berdusta. Allah tidak pernah menjadikan seorang pendamping, baik sebagai isteri maupun anak”. Mereka ditanya lagi: “Apa sekarang yang kamu inginkan?” Mereka menjawab: “Kami haus wahai Tuhanku!, berilah kami minum”. Lalu diisyaratkan kepada mereka: “Tidakkah kamu inginkan air?” Selanjutnya mereka digiring beramai-ramai ke neraka. Saat itu neraka bagi mereka tampak seperti fatamorgana, mereka saling berebut untuk mendapatkannya sehingga antara mereka saling menghancurkan kepada yang lainnya. Selanjutnya mereka bersama-sama dilemparkan ke dalam neraka.
Orang-orang Nasrani juga dipanggil dan ditanya: “Apakah yang kamu sembah sewaktu di dunia?” Mereka menjawab: “Kami menyembah al-Masih anak Allah”. Dikatakan kepada mereka: “Kamu telah berdusta!, Allah tidak pernah menjadikan seorang pendamping, baik sebagai isteri maupun anak”. Mereka kamudian ditanya lagi: “Apakah yang kamu inginkan sekarang?” Mereka menjawab: “Kami haus wahai Tuhanku, berilah kami minum”. Lalu ditunjukkan kepada mereka: “Tidakkah kamu inginkan air?”. Mereka digiring ke neraka Jahanam dan neraka seolah-olah fatamorgana bagi mereka, maka mereka saling berebut untuk mendapatkannya sehingga sebagian dari mereka menghancurkan sebagian yang lain, selanjutnya mereka dilemparkan ke dalam neraka.
Yang tertinggal kemudian hanyalah orang-orang yang menyembah Allah Ta’ala. Baik dari golongan yang berbuat baik maupun berbuat jahat. Allah Swt. Tuhan sekalian alam datang kepada mereka dalam bentuk yang lebih rendah dari bentuk yang mereka ketahui, lalu berfirman: “Apakah yang kamu tunggu?” Setiap umat akan mengikuti apa yang dahulunya mereka sembah. Mereka berkata: “Wahai Tuhan kami! Di dunia, kami menghindari orang-orang yang menyusahkan kami untuk membantu penghidupannya dan kami tidak mau berkawan dengan mereka karena mereka menyimpang dari jalan yang digariskan oleh agama”. Allah berfirman lagi kepada mereka: “Akulah Tuhan kamu!” Mereka berkata: “Kami mohon perlindungan dari Allah kepada kamu, kami tidak akan menyekutukan Allah dengan sesuatupun untuk yang kedua kalinya atau yang ketiga kalinya”. Sehingga sebagian dari mereka telah berubah seakan-akan telah kembali berbuat kebenaran. Allah berfirman: “Apakah di antara kamu dan Allah terdapat tanda-tanda yang membuktikan bahwa kamu dapat mengenali-Nya?” Mereka menjawab: “Ya!” Lalu dibukakan kepada mereka keadaan yang menakutkan itu dan tidaklah tertinggal bagi setiap orang yang dahulu bersujud kepada Allah dengan kehendaknya sendiri kecuali mendapat izin untuk sujud kepada-Nya sedangkan orang yang dahulu sujud hanya karena ikut-ikutan dan berbuat riya’, Allah telah merekatkan sendi-sendi tulang belakang mereka menjadi satu ruas sehingga mereka tidak dapat bersujud. Setiap kali hendak bersujud, mereka hanya dapat menundukkan tengkuknya. Ketika mereka mengangkat kepala, Allah telah berganti rupa sebagaimana gambaran yang mereka lihat pada pertama kali. Allahpun berfirman: “Akulah Tuhanmu”. Mereka menjawab: “Engkau Tuhan Kami!”
Sebuah jembatan kemudian dibentangkan di atas Neraka Jahanam dan sejak saat itu syafa’at Rasul-rasul dipermaklumkan. Mereka mengucapkan: “Ya Allah, selamatkanlah kami, selamatkanlah kami”. Ditanyakan kepada Rasulullah s.a.w: “Wahai Rasulullah, apakah jembatan itu?” Rasulullah bersabda: “Ia adalah bagaikan lumpur yang licin dan juga terdapat besi berkait dan besi berduri, seperti tumbuhan berduri yang berada di Najad yang disebut Sakdan”.
Orang-orang mukmin melintasi jembatan itu. Sebagian mereka ada yang berjalan secepat kedipan mata, seperti kilat menyambar, seperti angin berhembus, seperti burung terbang dan seperti kuda atau unta yang berlari kencang. Mereka terbagi menjadi tiga kelompok; sekelompok yang selamat dengan tidak mendapat suatu rintangan apapun, sekelompok lagi selamat tetapi terpaksa menempuh banyak rintangan dan sekelompok lagi terkoyak serta terjerumus ke dalam neraka Jahanam. Terhadap keadaan kelompok pertama, Rasulullah s.a.w bersabda:

فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ بِأَشَدَّ مُنَاشَدَةً لِلَّهِ فِي اسْتِقْصَاءِ الْحَقِّ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ لِلَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لِإِخْوَانِهِمِ الَّذِينَ فِي النَّارِ يَقُولُونَ رَبَّنَا كَانُوا يَصُومُونَ مَعَنَا وَيُصَلُّونَ وَيَحُجُّونَ فَيُقَالُ لَهُمْ أَخْرِجُوا مَنْ عَرَفْتُمْ فَتُحَرَّمُ صُوَرُهُمْ عَلَى النَّارِ فَيُخْرِجُونَ خَلْقًا كَثِيرًا قَدْ أَخَذَتِ النَّارُ إِلَى نِصْفِ سَاقَيْهِ وَإِلَى رُكْبَتَيْهِ

“Maka demi zat yang menguasai diriku (Rasulullah s.a.w), tidak ada seorang pun di antara salah satu dari kalian yang lebih bersungguh-sungguh di dalam mencari kebenaran di sisi Allah dengan memberi kepedulian kepada sesama saudara mereka—yang masih berada di Neraka—yang melebihi orang yang beriman kepada Allah. Mereka berkata: “Wahai Tuhan kami, sesungguhnya dulu mereka berpuasa bersama kami, mendirikan sholat dan mengerjakan haji”. Lalu Allah berfirman: “Keluarkanlah orang-orang yang kamu kenal karena wajah-wajah mereka diharamkan atas api Neraka”. Maka banyaklah yang dapat dikeluarkan dari Neraka. Ada yang sudah terbakar hingga separuh betis dan lututnya”.

Orang-orang mukmin itu berkata: “Wahai Tuhan kami, tidakkah ada lagi yang tertinggal di dalam Neraka setelah Engkau perintahkan untuk dikeluarkan?” Allah berfirman: “Kembalilah, siapa saja yang kamu temukan yang di hatinya ada kebaikan meskipun hanya seberat satu dinar, maka keluarkanlah”. Sehingga mereka dapat mengeluarkan banyak manusia lagi. Lalu mereka berkata lagi: “Wahai Tuhan kami, kami tidak tahu apakah masih ada di Neraka seseorang yang Engkau perintahkan untuk dikeluarkan”. Allah berfirman: “Kembalilah, siapa saja yang kamu temukan di hatinya ada kebaikan meskipun hanya seberat setengah dinar, maka keluarkanlah”. Mereka dapat mengeluarkan banyak lagi manusia. Setelah itu mereka berkata lagi: “Wahai Tuhan kami, kami tidak tahu, apakah di sana masih ada seseorang yang Engkau perintahkan untuk dikeluarkan”. Allah berfirman: “Kembalilah, siapa saja yang kamu temukan di dalam hatinya terdapat kebaikan meskipun hanya seberat zarrah, maka keluarkanlah”. Bertambah banyak lagi orang yang dapat dikeluarkan. Kemudian mereka berkata lagi: “Wahai Tuhan kami, kami tak tahu adakah di sana masih ada pemilik kebaikan?” Sesungguhnya Abu Said al-Khudri r.a berkata: “Jika kau tak mempercayaiku mengenai Hadits ini, maka bacalah QS. an-Nisa’ Ayat 40:
( إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا )
Yang artinya: “Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada seseorang walaupun sebesar zarah dan jika ada kebaikan sebesar zarah, niscaya Allah akan melipatgandakan serta memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar”.
Allah Swt. berfirman: “Para Malaikat telah meminta syafa’at, para nabi telah meminta syafa’at dan orang-orang mukmin juga telah meminta syafa’at. Yang tertinggal hanyalah Zat Yang Maha Penyayang di antara semua yang penyayang”. Lalu Allah mengambil dari Neraka dan mengeluarkan sekelompok orang yang sama sekali tidak pernah berbuat kebaikan. Mereka telah menjadi arang. Mereka dilempar ke sebuah sungai di pintu Surga, yang disebut Sungai Kehidupan. Selanjutnya mereka keluar seperti tunas kecil yang keluar setelah terjadi banjir. Bukankah kamu sering melihat tunas-tunas kecil di celah-celah batu atau pohon? Bagian yang terkena sinar matahari akan berwarna sedikit kekuningan dan hijau, sedangkan yang berada di bawah tempat teduh akan menjadi putih? Para Sahabat berkata: “Wahai Rasulullah seakan-akan engkau pernah menggembala di gurun pasir”. Rasulullah s.a.w meneruskan sabdanya: “Lalu mereka keluar bagaikan mutiara dan di leher mereka terdapat seuntai kalung sehingga para ahli Surga dapat mengenali mereka. Mereka adalah orang-orang yang dibebaskan oleh Allah dari Neraka dan dimasukkan ke dalam Surga dengan tanpa amalan yang pernah mereka kerjakan dan juga tanpa kebaikan yang pernah mereka lakukan”.
Allah berfirman: “Masuklah kamu ke dalam Surga, dan apa-apa yang kamu lihat adalah untukmu”. Mereka berkata: “Wahai Tuhan kami, Engkau telah berikan kepada kami pemberian yang belum pernah Engkau berikan kepada seorangpun di antara orang-orang di seluruh alam”. Allah berfirman: “Di sisi-Ku masih ada pemberian lagi untuk kamu yang lebih baik daripada pemberian ini”. Mereka berkata: “Wahai Tuhan kami, apa lagi yang lebih baik daripada pemberian ini?”. Allah berfirman: “Ridla-Ku, lalu Aku tidak akan memurkai kamu setelah itu untuk selama-lamanya”.
1.    Riwayat Bukhari di dalam Kitab Iman hadits nomor 21
2.    Riwayat Muslim di dalam Kitab Iman hadits nomor 269
3.    Riwayat Tirmidzi di dalam Kitab Sifat Surga hadits nomor 2478
4.    Riwayat Nasa’i di dalam Kitab Pelaksanaan hadits nomor 1128
5.    Riwayat Ad Darimi di dalam Kitab Meminta Simpati hadits nomor 2696.
*) Hadits Nabi di atas menyimpan beberapa rahasia kaitan tawasul.
  1. Meski yang berhak memberikan syafa’at hanya Rasulullah Muhammad s.a.w, namun para pelaksana  pemberian syafa’at tersebut ternayata bukan Beliau sendiri malainkan dari umatnya yang telah memberikan kepedulian kepada saudaranya sesama orang beriman.
  2. Orang-orang yang mampu menyelamatkan saudara seimannya yang terlanjur masuk neraka, tidak lain adalah guru-guru mursyid thoriqoh yang suci lagi mulai. Adapun orang-orang yang diselamatkan adalah murid-muridnya yang mau bertawasul kepada mereka. Oleh karena selama hidupnya mereka telah menyelamatkan murid-murid itu dari perbuatan maksiat dan dosa, hal itu mereka lakukan sebagai bentuk ibadah secara horizontal, maka disamping mereka masuk surga dengan selamat, juga mendapatkan hak untuk memberikan syafa’at kepada murid-murid tersebut yang terlanjur terpeleset di neraka. Selain mereka tidak mampu melakukan hal itu. Fenomena membuktikan, hanya orang suci itu yang mampu meneladani perilaku Rasulullah s.a.w. Sampai sekarang kita bisa melihat hasil karya mereka. Guru mursyid yang suci itu, bekerja sama dengan para sahabatnya yang terdari dari para Habaib yang mulia, terbukti berhasil membangun komunitas manusia dalam naungan panji-panji persaudaraan fillah dan rahmatan lil alamin. Beliau mengumpulkan orang banyak itu bukan supaya mereka memilih dirinya menjadi pejabat atau wakil pejabat sebagaimana marak dilakukan orang belakangan ini, tetapi untuk dibimbing menjadi orang yang kenal  kepada dirinya sendiri dan kenal kepada Tuhannya, menjadi hamba -hamba yang cinta dan ma’rifat kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’ala. Semoga Allah Ta’ala meridhoi mereka dan memberikan keberkahan kepada kita semua.

SYAFA'AT RASULULLAH SAW DI DUNIA


Syafa’at Nabi s.a.w Di Dunia
Semua orang beriman kepada Allah dan rasul-Nya pasti akan masuk Surga, bahkan dengan iman seberat atom sekalipun. Hal tersebut merupakan janji Allah yang tidak diingkari. Namun, untuk dapat masuk surga dengan selamat tanpa singgah di neraka, orang tersebut harus mampu menyempurnakan imannya di dunia. Iman yang tidak sempurna berarti ada kotoran di dalamnya. Kotoran tersebut boleh jadi berupa dosa yang belum diampuni atau tapak tilas perbuatan maksiat yang membentuk menjadi karakter yang tidak terpuji, seperti hubbud dunya, iri, hasud, nifak dll. Apabila karakter-karakter tersebut belum mampu disucikan di dunia sehingga terbawa sampai mati, berarti orang tersebut mati dalam keadaan iman tidak sempurna. Untuk menyempurnakan imannya, berarti terlebih dahulu mereka harus dibakar dengan api neraka. Jadi orang beriman dimasukkan Neraka itu bukan untuk disiksa, tetapi disucikan imannya supaya pantas menjadi penduduk Surga.
Seandainya dengan bekal iman tersebut mereka mau berusaha mendapat syafa’at Rasul s.a.w sejak di dunia, maka mereka akan mendapatkan hidayah dan inayah dari Allah s.w.t. Itulah ‘syafa’at Nabi di dunia’, dengan hidayah dan inayah itu menjadikan manusia mampu melaksanakan kewajiban agamanya dengan baik. Dengan demikian, disamping mereka akan mendapatkan pahala dari segala kebajikan yang telah dikerjakan, juga mendapatkan syafa’at di akhirat. Itu bisa terjadi, karena setiap manusia akan mendapatkan sesuatu sesuai dengan yang mereka usahakan. Allah s.w.t menegaskan dengan firman-Nya:
وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى(39)وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَى(40)ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَاءَ الْأَوْفَى – 41
“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.- Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya).- Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna.QS.an Najm(53)39-41)
Maksudnya, barangsiapa di dunia tidak pernah berusaha mendapatkan syafa’at Nabi s.a.w dengan jalan bertawasul kepada Beliau, berarti sedikitpun tidak akan mendapatkan syafa’at tersebut di akherat. Jika mereka itu mati dalam keadaan iman sempurna berarti akan masuk surga dengan selamat, namun jika tidak, berarti tidak ada yang dapat menolong saat mereka dimasukan neraka. Namun, tanpa syafa’at Nabi di dunia, barangkali tidak mungkin orang dapat menyempurnakan imannya sehingga dapat masuk surga dengan selamat.
Bertawasul dalam arti melaksanakan “Interaksi ruhaniah” antara seorang murid dengan guru-guru ruhaniyahnya sampai dengan kepada Rasulullah s.a.w. Tawasul tersebut dilakukan dengan tujuan untuk tercapainya kebersamaan rasa dan nuansa secara ruhaniah di saat melaksanakan ibadah kepada Allah Ta’ala. Hal itu melaksanakan perintah Allah yang dinyatakan dalam firman-Nya:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama-sama dengan orang yang shiddiq”. (QS.at-Taubah: 9/119)
Bersama-sama dengan orang yang shiddiq secara ruhaniyah, itulah yang dimaksud dengan interaksi ruhaniyah. Hal tersebut merupakan kondisi yang memang bisa dimungkinkan, sebagai sunnatullah yang tidak ada perubahan lagi untuk selamnya. Orang yang hidup di alam dunia, dengan matahatinya dapat berinteraksi dan berkomunikasi secara ruhaniyah dengan orang-orang yang hidup di alam barzah, karena kemungkinan itu dinyatakan Allah dengan firman-Nya:
وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتٌ بَلْ أَحْيَاءٌ وَلَكِنْ لَا تَشْعُرُونَ
“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang yang gugur di jalan Allah (mereka itu) mati, bahkan mereka (sebenarnya) hidup, akan tetapi kamu tidak bisa merasakan”. (QS.al-Baqoroh: 2/154)
Setiap orang melaksanakan perintah Allah berarti beribadah dan setiap ibadah yang ikhlas pasti mendapatkan pahala, maka pahala pertama yang diberikan kepada orang yang melaksanakan ‘tawasul secara ruhaniah’ adalah mendapatkan ‘rahasia syafa’at’ dari yang ditawasuli, yakni dari Rasulullah s.a.w. Rahasia syafa’at tersebut berupa kemudahan di dalam melaksanakan ibadah maupun penerimaan ibadah itu di sisi-Nya. Itulah juga yang dimaksud dengan syafa’at Nabi di dunia. Dengan syafa’at di dunia tersebut, sehingga interaksi ruhaniyah antara seorang pengikut dengan yang diikuti dapat terkondisikan dengan mudah, maka seorang salik dapat merasakan manisnya beribadah karena ibadah itu dapat dilaksanakan dengan khusu’. Amaliah tersebut menjadi ibadah yang mampu menangkis segala tipu daya setan dan dorongan nafsu syahwat serta aktifitas rasional yang melalaikan. Dengan yang demikian itu maka do’a dan munajat seorang hamba mendapatkan ijabah dari Allah Ta’ala.
Kebanyakan orang mengartikan istilah ‘mati’ di dalam ayat di atas terjebak secara leksikal yakni sebagai ‘batas perpisahan’ antara alam kehidupan dan alam kematian. Mereka mengira dengan mati itu akan dipisahkan dari apa-apa yang mereka cintai. Akibatnya, semua orang menghindari kematian. Padahal, meskipun kematian itu dihindari, apabila ajalnya sudah datang, sedikitpun tidak dapat diundur. Sesungguhnya hakekat mati itu bukan batas antara kehidupan dan kematian, akan tetapi batas antara dua alam kehidupan. Yang satu kehidupan di alam dunia dan satunya di alam barzah. Masing-masing kehidupan itu sejatinya masih berkaitan erat. Namun, oleh karena sebagian besar orang hidup di alam dunia tidak dapat merasakan kehidupan alam barzah, maka batas pergantian dua kehidupan itu dianggap oleh mereka sebagai terputusnya kehidupan atau mati.
Bagi orang yang tidak percaya kehidupan akherat, sehingga kehidupan dunianya hanya dirasakan sebagai kesenangan saja, maka saat matinya berarti akan dipisahkan dengan segala kecintaannya, dan sesudah matinya akan dipenjara di dalam siksa kubur yang diingkarinya. Hal itu bisa terjadi, karena kebebasan hidupnya sudah dihabiskan hanya untuk memperturutkan kemauan nafsu syahwat belaka, maka di alam barzah sudah tidak ada lagi kebebasan baginya.
Adapun orang yang beriman dan beramal sholeh serta yakin dengan kehidupan akherat, sehingga kehidupan dunianya hanya dijadikan sebagai perladangan untuk hari akherat, maka setelah matinya berarti memasuki saat panen. Di alam barzah itu mereka akan menuai apa-apa yang selama ini ditanam di dunia. Mereka akan memasuki kemerdekaan hidup karena selama di dunia kemauan nafsu sahwatnya dipenjarakan oleh kepentingan akherat. Di alam kemerdekan itu akan terbuka peluang baginya,—sebagai sunnatullah yang sudah ditetapkan—mereka dapat bertemu dan berkomunikasi dengan teman-temannya yang masih hidup, hanya saja sebagian besar orang yang ditemui itu tidak dapat merasakan kehadiran mereka.
Interaksi ruhaniah tersebut adalah buah ibadah—sebagai bagian dari syafa’at Nabi yang diturunkan di dunia. Ketika seorang hamba mampu meredam kemauan dan kemampuan basyariah, itu dilakukan saat dia berdzikir dan beribadah, dengan izin Allah matahati yang ada di dalam rongga dada dapat merasakan kejadian-kejadian yang tidak dapat dilihat oleh mata kepala. Allah s.w.t yang menciptakan sunnah-Nya, maka hanya Allah pula Yang Maha Kuasa untuk menciptakan perubahan sunnah itu bagi seorang hamba yang dikehendaki-Nya. Wa Allahu A’lam.

26 Jan 2010

Filosofi daun


Daun adalah organ tumbuhan yang sangat penting dan menjadi ciri khas dari makhluk hidup bernama tumbuhan. Daun memiliki bentuk yang beragam sesuai dengan fungsi dan sifatnya, mulai sebesar daun pisang hingga sekecil duri kaktus. Daun itu hijau, teduh, dan memiliki banyak pelajaran untuk optimalisasi hidup bagi mereka yang mau mengambil pelajaran.

Daun itu mandiri. Ia tidak menggantungkan diri pada yang lain. Karenanya ia dapat memproduksi makanan sendiri. Daun itu cerdas. Ia pandai menyesuaikan diri. Karenanya ia dapat hidup mulai dari di daerah segersang padang pasir hingga mengambang di atas air. Dan daun itu produktif. Ia tidak menunggu dewasa untuk memberikan kebermanfaatan. Karenanya ia sudah dapat melakukan fotosintesis bahkan sesaat setelah tunas itu tumbuh.

Daun itu tidak egois. Ia tidak hanya mementingkan dirinya sendiri. Karenanya energi dan makanan hasil fotosintesis, dialirkan ke seluruh bagian tubuh tumbuhan, tanpa kecuali. Daun itu tahu balas budi. Ia menyadari bahwa ia ada berkat dukungan yang lain juga. Karenanya semakin rimbun daun, semakin kokoh pula akar yang menyerap air dan sari pati makanan, serta semakin kuat pula batang yang menyalurkannya. Daun itu santun. Ia mengubah keburukan menjadi kebaikan. Karenanya zat asam arang yang dapat menjadi racun melalui proses fotosintesis diubahnya menjadi oksigen dan energi yang bermanfaat.

Daun itu pemurah. Kebermanfaatannya dapat dirasakan luas, tidak hanya bagi tumbuhan yang ditinggalinya. Mulai dari hewan dan manusia yang menghirup oksigen hasil fotosintesis atau menjadikannya makanan yang menyehatkan, hingga kegunaannya sebagai bahan obat, pembungkus dan berbagai pemanfaatan lainnya. Daun itu indah, dengan beragam bentuk dan corak warna, menjadikan tumbuhan dan pepohonan tampak lebih hidup. Daun itu menyejukkan. Mengayomi dan menentramkan.

Daun itu tawazun (seimbang). Ia tidak berlebih – lebihan. Karenanya ia tidak layu karena kelebihan berproduksi atau pucat karena kekurangan makanan. Dan daun itu terus berkontribusi. Kontribusi yang terus terjaga kontinyuitasnya hingga mati. Kematiannyapun berprestasi. Dengan lebih dulu membentuk tunas baru. Bahkan ketika ia harus kering dan gugur, keberadaannya dapat menjadi pupuk yang menyuburkan tumbuhan yang pernah ditinggalinya…

Indahnya hidup jika filosofi daun tersebut dapat terinternalisasi dan terimplementasi dalam setiap diri kita. Kemandirian, produktifitas dan kebermanfaatan tentunya akan membuat hidup lebih bermakna. Namun hati – hati, ada pula daun yang berduri, membuat gatal, beracun ataupun menyebarkan bau busuk. Dan akhirnya pilihan itu ada di tangan kita.

Wallahu a’lam bi shawwab

HIkmah dari sebuah Mangkuk kayu



Seorang lelaki tua tinggal bersama anak laki-lakinya,menantu, dan cucu yang berusia Empat tahun. Tangan lelaki tua tiu gemetaran, matanya kabur, jalanya tertatih-tatih. Keluarga ini selalu makan bersama dimeja, namun tangan orang tua mereka yang gemetaran membuat makan menjadi pekerjaan yang sulit baginya. Sesekali makanan jatuh dari sendoknya ke lantai. Anak dan menantunya menjadi jengkel karena kotoran yang di akibatkannya.

“ ..kita harus berbuat sesuatu terhadap ayah.” Kata si anak. “ aku sudah tak sabar lagi melihat tumpahan susu, berisiknya kunyahan, makanan yang jatuh ke lantai.”

Kemudian suami istri tersebut menyediakan meja kecil di pojok ruang makan. Di meja ini ayah mereka makan seorang diri. Karena ayah juga memecahkan satu dua piring. Maka makanan dimeja kecil ini disajikan dalam mangkuk terbuat dari kayu.

Bila keluarga ini melihat sekilas kea rah lelaki tua tiu, terkadang Nampak matanya berkaca-kaca selagi ia duduk sendiri. Apabila sang kakek menjatuhkan sendok atau menumpahkan makanan, mereka menegurnya dgn keras, sang cucu yang berusia empat tahun menyaksikan kejadian itu.

Suatu petang, sebelum makan malam, sang ayah menyaksikan anaknya bermain- main, dengan potongan –potongan kayu di lantai. Sang ayah dengan manis bertanya, “..lagi bikin apa nak?” sang anak menjawab,”..oh..aku sedang membuat mangkuk kecil untuk masa tua ayah dan ibu kelak,”

Kata-kata si anak menampar kedua orang tuanya sehingga mereka tak kuasa berkata2. Air mata mulai menetes di pipi mereka. Meskipun keduanya tak berbicara, tapi mereka tahu apa yang harus segera dilakukan.

Malam itu juga , sang suami memegang dengan lembut tangan ayahnya lalu membimbingnya kemeja keluarganya. Sejak hari itu, lelaki tua itu makan lagi bersama keluarganya. Dan suami istri itu tidak pernah lagi memperdulikan sendok yang jatuh, susu yang tumpah dan taplak meja yang kotor.

Hadirnya orang tua disisi kita merupaka petanda dari Allah Ta’ala bahwa kita masih diberi kesempatan untuk berbakti dan menjadi anak yang shalih.

Janganlah sesekali engkau menyia-nyiakan kehadiran orang tuamu yang selalu sabar dalam mengasuh, mendidik, dan membesarkanmu.

Semoga Allah mencantumkan nama-nama kita sebagai seorang anak yang berbakti kepada orang tua, dan menganugrahkan kepada kita anak-anak yang berbakti pula. Amiin.